Porseni MTs DDI Padanglampe Dan Parade Kesenian

(13/12/2017) Mts DDI Padanglampe.Bertempat Desa Padanglampe,Kec.Ma’rang,Kab.Pangkep,Sul-Sel, setiap tahunnya melaksanakan Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) yang dirayakan setiap akhir semerter pertama.Dengan berbagai even lomba yang menarik,seperti halnya lomba Sepak Takrow,Putsal,dan lain Sebagainya. Adapun lomba keagamaan yang di lombakan seperti Azan Berjamaah,Pidato/Ceramah,Peraktik Sholat dan Sebagainya.

Tapi di tahun ini ada yang menarik perhatian saya di tahun ini. Yang menarik perhatian saya adalah perlombaan menari yang diadakan pada porseni di mts ddi padanglampe.

Dalam tari tersebut diperlombakan berbagai macam tarian tradisional khas sulawesi,diantaranya tari pakarena dan sebagainya. Kemudian keesokannya dilanjutkan dengan parade budaya dengan kostum kostum khas sulawesi, salah satunya adalah baju bodo.

Adapun lomba tersebut diantaranya para pesertanya dilatih oleh tangan cekatan seorang pelatih yang akrab di panggil Dandi oleh anak muridnya. Kata Dandi (sapaan Akrabnya) “Seni merupakan hal yang perlu di kembangkan dan diwariskan kepada genrasi muda dan merupakan aset yang paling berharga nantinya”.

 

 

 

 

Dalam Parade Tersebut Kak Dandi Menurunkan 5 porsenil tari yang nantinya akan di buatkan video dokumenter untuk di bikin kaset/disk. Adapun pembagian kelompoknya di antaranya:

  • Tari Tulolona Sulawesi dengan kostum baju bodo
  • Tari 5 Etnis.Makassar dengan gerakan pakarena serta kostum baju bodo..Bugis dengan gerakan Pajoge dengan kostum Baju la’bbu.Mandar dengan Gerakan patuddu.Serta kostum baju pakko to Karama dan lipa’sabbe to Banggae.Toraja dengan gerakan Marendeng marampa dengan kostum baju pokko’ to ri aja’.Mammasa dengan kostum baju pokko’ dengan gerakan Ma’rading.
  • Tari karannuang dengan kostum baju la’bbu.
  • Tari Tulolona Sulawesi dengan kostum baju bodo tokko
  • Tari Pakarena dengan kostum baju bodo tokko

Sungguh budaya yg menarik dan indah ! meskipun Sedikit melelahkan kata siswa yang mengikuti parade tarian tersebut.terlebih halnya harus mengangkat tongkonan yang beratnya 5 hingga 8 kg sungguh berat bagi saya selaku penulis untuk merasakan berat itu, ibarat menjunjung se galon/ember air. namun semua itu terobati dengan seni yang begitu mempesona. Padanglampe (14/12/2017).

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan