Sejarah Desa

Nama Padanglampe terdiri dari dua suku kata yaitu Padang  dan kata Lampe. Dalam bahasa Indonesia Padang artinya lapangan yang sangat luas. Lampe artinya panjang. Jadi Padanglampe adalah hamparan yang luas dan panjang. Nama Padanglampe diberikan pertama kali oleh almarhum Andi Baso Daeng Maggading.

Pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda, Padanglampe masih berstatus kampung dari salah satu Distrik Ma’rang. Kepala Kampung yang pertama adalah Andi Baso Daeng Maggading (Tahun 1942-1962). Kemudian pada tahun 1962 kampung Padanglampe berubah status menjadi Desa Padanglampe (Kepala Desa pertama adalah H.Andi Muh.Ali sampai pada tahun 1976). Wilayah Desa Padanglampe pada saat itu meliputi beberapa Rukun Kampung, yaitu:

a. Punranga
b. Ujung
c. Gelleng
d. Alebonto-bonto
e. Alesipitto
f. Padanglampe
g. Sambau

Akibat perkembangan penduduk, satu per satu dari Kampung tersebut di atas memisahkan diri dari Desa Padanglampe (masuk wilayah Desa/Kelurahan lain) bahkan Kampung Punranga dan Alesipitto sudah menjadi Desa tersendiri. Pada saat ini Desa Padanglampe terdiri atas 4 buah Dusun, masing-masing: Padanglampe, Sambau, Balangkatala dan Dusun Alekarajae

Asal kata PADANGLAMPE Bermula dari dua suku kata yaitu kata Padang dan kata Lampe. Padang dalam bahasa Indonesia artinya Lapangan yang sangat luas sedangkan Lampe adalah Bahasa Bugis yang artinya Panjang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Padanglampe adalah Hamparan Padang (Lapangan) yang Luas dan Panjang. Nama ini diberikan oleh seorang putera Padanglampe yang bernama ANDI BASO DAENG MAGGADING pada zaman pemerintahan Hindia Belanda.

Pada masa itu Padanglampe masuk dalam bagian distrik  Ma’rang  Onder Afdeling Pangkajene. Karena letak Padanglampe yang sangat jauh yaitu kurang lebih 8 km dari kantor Kepala Distrik Ma’rang dan masih terbatasnya sarana transportasi pada masa itu. Maka untuk memudahkan koordinasi dan komunikasi antara penduduk Padanglampe dengan Kepala Distrik Ma’rang utamanya keamanan masyarakat, H. ANDI PINTARA sebagai Kepala Pemerintahan Distrik Ma’rang menugaskan ANDI BASO DAENG MAGGADING sebagai Kepala Kampung Padanglampe dari tahun 1940-1960. Akhirnya Kampung Padanglampe menjadi Desa Padanglampe.

Desa Padanglampe terletak pada ketinggian 15-20 m dari Permukaan Laut terdiri dari 70% dataran rendah dan 30% dataran tinggi. Suhu udara rata-rata berkisar antara 250C-300C dengan curah hujan 3.174 mm/tahun. Letaknya cukup strategis karena berbatasan langsung dengan empat daerah. Disebelah Utara berbatasan dengan Desa Alesipitto, di sebelah Selatan dengan Kelurahan Attangsalo-Kecamatan Labakkang, di sebelah Timur dengan Kecamatan Bungoro-Kecamatan Segeri dan di sebelah Barat dengan Kelurahan Ma’rang . Jarak dari pusat pemerintahan Kecamatan + 8 km, dari ibukota Kabupaten + 22 km dan dari ibukota Provinsi + 24 km.

Luas desa kurang lebih 1.385 Ha yang terdiri dari tanah sawah, tanah kering, tanah perkebunan, tanah fasilitas umum dan tanah hutan. Jumlah penduduk 3.189 jiwa terdiri dari 1.593 jiwa penduduk laki-laki dan 1.596 jiwa penduduk perempuan dengan jumlah Kepala Keluarga 773 KK. Terbagi dalam 4 (empat) dusun yaitu Dusun Balangkatala, Dusun Alakarajae, Dusun Sambau dan Dusun Padanglampe sendiri sebagai pusat Pemerintahan.
Dalam bidang Pendidikan di desa Padanglampe terdapat 1 buah SLTA/Sederajat, 3 buah SLTP/Sederajat, 4 buah SD/Sederajat, 1 buah TK, dan 1 buah TPA, serta 1 buah PAUD. Dalam bidang Keagamaan terdapat 5 buah Masjid dan 1 buah Gereja. Di bidang Kesehatan terdapat 1 buah Puskesmas, 1 buah Posyandu dengan 1 orang dokter umum, 5 orang Paramedis dan 1 orang Bidan Desa.